Sudah rajin posting di Instagram, membuat Reels, mengikuti tren, bahkan jumlah followers terus bertambah. Namun, ketika melihat WhatsApp, ternyata tidak banyak pesan dari calon pelanggan yang masuk. Pernah mengalami hal serupa?

Padahal, NapoleonCat mencatat ada sekitar 124 juta pengguna Instagram di Indonesia pada Juni 2026. Artinya, ada peluang besar untuk menjangkau calon pelanggan melalui platform ini.

Namun, bagaimana cara mendapatkan customer dari Instagram, bukan sekadar menambah followers?

Menurut saya, kuncinya bukan hanya membuat konten yang menarik perhatian, tetapi membangun alur yang membantu seseorang bergerak dari tidak mengenal bisnis kita sampai akhirnya melakukan pembelian.

Kenapa Followers Banyak Belum Tentu Jadi Customer?

Coba bayangkan ketika kamu menemukan sebuah akun bisnis melalui Reels. Kamu mungkin menonton videonya, menyukai salah satu postingan, lalu membuka profil untuk melihat produk yang ditawarkan.

Namun, apakah kamu langsung membeli?

Belum tentu. Bisa jadi kamu masih ingin mengetahui harga, membaca testimoni, membandingkan produk, atau sekadar menyimpan akun tersebut untuk dilihat lagi nanti.

Hal yang sama terjadi pada calon pelanggan bisnis kita. Followers adalah orang-orang yang mengikuti akun, bukan kumpulan orang yang otomatis siap membeli.

Karena itu, Instagram sebaiknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan pelanggan atau marketing funnel, bukan sekadar tempat mengumpulkan likes dan followers.

Sebelum Mulai: Tentukan Siapa yang Ingin Dijangkau

Sebelum membuat konten, tentukan dahulu siapa orang yang ingin kamu ajak berkomunikasi.

Bisnis skincare untuk remaja tentu membutuhkan pendekatan berbeda dengan jasa renovasi rumah yang menyasar pemilik rumah berusia matang.

Kenali target pasar dan bangun customer persona agar bahasa, topik, dan penawaran yang disampaikan lebih relevan dengan kebutuhan audiens.

4 Tahap Mendapatkan Customer dari Instagram

Menurut saya, perjalanan seseorang dari pengguna Instagram biasa sampai menjadi customer bisa dibagi menjadi empat tahap berikut.

1. Agar Ditemukan: Buat Konten yang Menjangkau Non-Followers

Tahap pertama adalah membuat bisnis kita ditemukan oleh orang-orang yang belum mengenal akun tersebut.

Salah satu format yang bisa dimanfaatkan adalah Reels karena memiliki peluang menjangkau pengguna di luar followers.

Namun, bukan berarti semua video pendek otomatis mendapatkan banyak jangkauan. Adam Mosseri, Head of Instagram, dalam penjelasannya pada Januari 2025 menyebut tiga sinyal utama ranking Instagram, yaitu watch time, likes per reach, dan sends per reach.

Artinya, konten perlu membuat orang tertarik untuk menonton, menyukai, atau membagikannya kepada orang lain.

Misalnya, jika kamu memiliki bisnis laundry, daripada hanya mengunggah foto mesin cuci, coba buat Reels tentang cara menghilangkan noda membandel atau tips merawat pakaian agar tidak cepat rusak.

Konten seperti ini memiliki manfaat yang lebih jelas dan berpotensi dibagikan kepada orang lain.

Jangan lupa menggunakan kata kunci yang relevan pada nama profil, caption, dan deskripsi konten agar pengguna lebih mudah memahami bisnis yang kamu tawarkan.

2. Agar Dipercaya: Buat Profil yang Meyakinkan

Berhasil mendapatkan kunjungan profil belum tentu membuat seseorang tertarik menjadi pelanggan.

Ketika membuka akun bisnis, calon pelanggan biasanya ingin mengetahui beberapa hal:

  • Bisnis ini menjual apa?
  • Apakah produk atau layanannya sesuai dengan kebutuhan saya?
  • Apakah bisnis ini bisa dipercaya?
  • Bagaimana cara melakukan pemesanan?

Karena itu, jangan biarkan bio Instagram hanya berisi slogan yang terdengar menarik, tetapi tidak menjelaskan apa pun.

Gunakan bio untuk menjelaskan siapa target pelanggan dan solusi yang ditawarkan.

Kemudian, manfaatkan fitur Highlight untuk menyimpan informasi penting seperti testimoni, daftar harga, FAQ, katalog produk, dan proses pemesanan.

Kamu juga bisa membagikan konten dari pelanggan yang sudah menggunakan produk atau layanan. Pengalaman pelanggan lain bisa membantu calon pembeli mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang bisnis tersebut.

3. Agar Menghubungi: Permudah Jalan Menuju WhatsApp

Setelah mengenal dan mempercayai bisnis kita, langkah berikutnya adalah membuat calon pelanggan tahu harus melakukan apa.

Jangan berasumsi bahwa mereka otomatis memahami cara memesan produk hanya karena sudah melihat profil Instagram.

Berikan satu call to action (CTA) yang jelas pada setiap konten.

Misalnya:

  • Ingin tahu harga renovasi rumah? Hubungi kami melalui WhatsApp.
  • Tertarik mencoba produk ini? Klik link di bio untuk pemesanan.
  • Punya pertanyaan tentang layanan kami? Kirim pesan melalui DM.

Untuk bisnis di Indonesia, WhatsApp bisa menjadi jembatan yang praktis antara Instagram dan transaksi.

Kamu bisa mengarahkan link di bio langsung ke WhatsApp dengan pesan awal yang sudah terisi. Contohnya, “Halo, saya melihat produk ini dari Instagram dan ingin mengetahui informasi lebih lanjut.”

Dengan begitu, calon pelanggan tidak perlu mencari nomor kontak atau menyusun pesan dari awal.

Semakin sedikit langkah yang harus dilakukan, semakin mudah bagi mereka untuk memulai percakapan.

4. Agar Membeli: Bantu Calon Pelanggan Mengambil Keputusan

Ketika seseorang sudah menghubungi bisnis melalui WhatsApp atau DM, bukan berarti transaksi otomatis terjadi.

Di tahap ini, pastikan ada orang yang bertanggung jawab menjawab pertanyaan, memberikan informasi yang dibutuhkan, dan mengarahkan calon pelanggan ke langkah berikutnya.

Jangan hanya mengirimkan daftar harga tanpa memahami kebutuhan mereka.

Jika calon pelanggan masih ragu, cari tahu apa yang menjadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka membutuhkan informasi tambahan, ingin membandingkan penawaran, atau belum siap membeli sekara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *